Ibas : “Papa, Mengapa Aku Berbeda?”




Sejak Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY di calonkan sebagai gubernur DKI Jakarta mewakili Koalisi Cikeas yang di gawangi oleh Partai Demokrat, nama Eddy Baskoro Yudhoyono atau Ibas mulai jarang dibicara orang. Apalagi saat ini suhu politik di Pilgub DKI semakin panas. Lengkap lah sudah keadaan yang menjadikan Ibas sebagai pangeran yang terlupakan.

Dicalon nya Agus sebagai Gubernur DKI Jakarta cukup menarik perhatian. Selain sosok nya baru di kenal publik, pencalonan nya juga diumum kan pada menit-menit Injury Time. Banyak masyarakat yang bertanya : Apa sih prestasi seorang Agus Yudhoyono?


Baca Juga : Ketika AHY Mendapat “Warisan Pencitraan” dari SBY

Masyarakat banyak yang beranggapan, kalau ada sosok yang pantas dicalon kan oleh SBY sebagai gubernur, orang tersebut tidak lain adalah Ibas. Putra bungsu SBY sendiri. Selama ini masyarakat memang sudah cukup mengenal Ibas sebagai pangeran cikeas yang gemar memakai baju berlengan panjang, waktu kuliah mengambil jurusan politik, ikut terjun kedunia politik dan menantu dari mantan ketua parpol.

Tapi apa mau dikata, SBY malah mencalon kan Agus. Terlepas apa pun rencana dari kubu cikeas, cukup lah mereka dan tuhan saja yang tahu.

Kasihan Ibas. Di PHP-in

Ini sama saja dengan kamu yang sudah di PDKT kan dengan seorang cewek, tapi dimenit-menit terakhir malah kakak kamu sendiri yang disuruh melamar cewek tersebut. Miris! Hati terasa kayak diiris-iris pakai sendok. Perih banget

Kira-kira bagaimana ya perasaan Ibas waktu itu? Mungkin disela-sela waktu luang, akan terjadi pembicaraan seperti ini :

Ibas : “Papa, Ibas mau ngomong”

Pepo: “Mau ngomong apa? Jangan lama-lama. Papa lagi sibuk buat lagu untuk album terbaru. Dari tadi otak Papa buntu. Bingung reff nya dimulai dari bagian mana? Apa dari kata Angin Menerpa atau Prihatin?”

Ibas : “…”

***

Ibas : “Selama inikan Ibas yang main politik”.

Pepo : “Terus?”

Ibas : “Ibas juga kan yang waktu kuliah dulu mengambil jurusan politik”

Pepo : “Terus?”

Ibas : “Ibas juga berhasil menjadi menantu mantan ketua parpol”

Pepo : “Iya, terus?”

Ibas : “Dari tadi papa hanya bilang terus… terus… terus… Papa ini mantan presiden apa mantan tukang parkir?”

Pepo : “…”

***

Pepo : “Iya, terus apa?”

Ibas : “Tapi kenapa yang dicalonkan jadi gubernur malah Mas Agus? Papa nggak adil”

Pepo : “Ooo… Itu permasalahannya. Memangnya kalau papa mencalonkan kamu, apa yang bisa papa banggakan? Tampang nggak seberapa, waktu kuliah lulus dengan nilai pas-pasan, badan kayak tiang listrik, partai mertua kamu itu posisinya sekarang hidup segan mati tak mau, lagian nama kamu itu sudah terlanjur tercoreng di mata publik”.

Ibas : “Hukkk… Hukkk… Hukkk…”

Pepo : “Kalau Agus beda. Wajahnya tampan, badannya kekar, lulusan terbaik Akademi Militer, namanya juga masih bersih. Persis kayak papa waktu muda dulu. Cuma badan papa saja yang sedikit pendek waktu itu”


Ibas : “Hukkk… Hukkk… Hukkk…”

Pepo : “Dari tadi kamu cuma Hukkk… Hukkk… Hukkk… Kamu itu menangis apa tertelan karet?”

Ibas : “…”


Baca Juga : Separuh Jiwa SBY “Merasuk” dalam Diri AHY

***

Pepo : “Lagian papa heran. Papa gemuk, mama gemuk, Mas Agus mu walaupun tidak gemuk tapi badannya kekar. Lah, kamu sendiri yang badan nya kurus kering kayak tiang listrik. Papa curiga, jangan-jangan kamu itu…

Ibas : “Papa mau bilang kalau Ibas ini bukan anak papa? Papa Jahat!”

Pepo : “Bukan. Maksud papa, jangan-jangan kamu itu…”

Ibas : “Jangan-jangan apa?”

Pepo : “Jangan-jangan kamu itu cacingan”.

Ibas : “…”

***

Pepo : “Kalau misalnya kemaren papa mencalonkan kamu jadi gubernur DKI, memangnya kamu bisa kampanye menggunakan baju lengan pendek? Bisa?”

Ibas : “Nggak bisa, Pa. Papa kan tahu alasannya kenapa Ibas selalu pakai baju lengan panjang”

Pepo : “ Iya, papa tahu. Kamu malukan kalau bekas kurap di tangan kamu kelihatan”

Ibas : “Sssttttt… Papa jangan bilang kuat-kuat. Malu kalau sampai ada orang lain yang mendengar”.

Pepo : “Hahaha”

***

Ibas : “Kemaren mama bilang, di tangan Ibas ini bukan kurap tapi tanda lahir”.

Pepo : “Kamu lebih percaya papa apa mama?”

Ibas : “Ibas lebih percaya sama papa. Kalau tanda lahir, mana ada tanda lahir yang berbentuk seperti bekas telapak kaki kucing. Ini pasti kurap”.

Pepo : “Nah, itu tahu”

***

Pepo : “Selain itu, alasan papa tidak mencalon kan kamu sebagai gubernur kemaren karena papa tidak mau selepas ngantar kamu ke KPUD, pulang-pulangnya kamu jadi tahanan KPK. Sampai sekarang pun posisi kamu masih belum aman. Kerabat kita yang sekarang bertahta di penjara masih suka menyebut-nyebut nama kamu dengan julukan pangeran yang ikut terlibat dalam kasus korupsi. Papa tidak mau kehilangan kamu, Nak”.

Ibas : “Maafin Ibas, Pa. Ternyata papa sayang banget sama Ibas, Hukkk… Hukkk… Hukkk…”.

Pepo : “Iya, Nak. Papa sayang sama kamu. Tapi papa lebih sayang lagi sama mama kamu. Walaupun mama kamu itu cerewet dan suka jepret.. jepret.. upload. Tapi kesetiaannya tidak ada duanya didunia”.

Ibas : “…”


Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Bila ada pesamaan nama dan tempat kejadian. Itu hanyalah faktor ketidaksengajaan




loading...

0 Response to "Ibas : “Papa, Mengapa Aku Berbeda?”"

Posting Komentar