Jokowi – Habib Lutfi bin Yahya, Simbol Persatuan Ulama dan Pemerintah



Pada tanggal 8 Januari 2017, Habib Lutfi mengadakan Maulid Nabi Muhammad di kediamannya di Pekalongan. Presiden Jokowi turut menghadiri perayaan itu, bahkan Kapolri Tito Karnavian serta Panglima TNI Gatot, menghadiri juga acara tersebut. Banyak juga kalangan dari non Muslim hadir untuk sekedar silaturahim kepada Ulama dan pemerintah.

Tampak di foto, Habib Lutfi dan Jokowi bergandeng tangan dengan mesra, bagaikan saudara kembar yang saling menyayangi. Di tengah-tengah isu bahwa pemerintah Jokowi melakukan kerugian kepada umat Islam bahkan memusuhi umat Islam, hal ini di tangkis dengan cara bergandengan tangan dengan Ulama. Tak tanggung-tanggung, yang di gandeng adalah Rais Am Tarekat NU, yaitu Habib Lutfi bin Yahya.

Bahkan, semua elemen pemerintah dan masyarakat bersatu untuk sama-sama memperingati Maulid Nabi Muhammad, sekaligus untuk menyatakan bela negara dari terorisme dan radikalisme. Inilah simbol, bahwa pemerintah Jokowi tidak anti Islam, Jokowi bukanlah orang yang mempunyai agenda untuk menghancurkan Islam, begitu juga dengan Habib Lutfi bin Yahya, dia bukanlah Habib yang meneriakan revolusi, bukan Ulama yang mendukung terorisme, bukan Ulama yang mencaci maki pemerintah, bukan Ulama yang selalu menghina keyakinan orang lain, sehingga Jokowi dan Habib Lutfi adalah simbol bahwa umat Islam bersatu dengan pemerintah, umat Islam, Ulama dan pemerintah sama-sama mempunyai misi mempertahankan Pancasila dan NKRI.

Isu yang menimpa Jokowi sebenarnya isu basi. Bagaikan makanan, biarpun basi jika dihangatin terus menerus ada yang makan juga. Sebelum Jokowi di fitnah membenci umat Islam, Presiden Suriah, Basar Asad terlebih dahulu di fitnah. Dia bahkan di fitnah mengaku Tuhan, memusuhi Ulama, membunuh umat Islam, sehingga banyak yang terpropaganda yang membuat Suriah menjadi hancur berkeping-keping, padahal Basar Asad bersatu bersama Ulama seperti Syaikh Ramdhan Al-Buty dan Syaikh Badroddin Hason. Jokowi pun sama, di tuduh anti Islam, Komunis, bukan anak kandung dari ibunya, akan menghancurkan Islam, tetapi ternyata itu di bantah dengan menggandeng Ulama yang keilmuwannya diakui di dunia.

Mereka sengaja melakukan propaganda tersebut agar mampu menarik simpati sebagian umat Islam di Indonesia untuk melakukan revolusi. Indonesia mayoritas Muslim, ini menjadi ladang yang segar untuk menghembuskan isu agama, apalagi menyangkut pemerintah. Sehingga yang diharapkan adalah Jokowi lengser dan negara Indonesia bisa menjadi negara “Islam” versi mereka.

Bahkan tak segan-segan umat non Muslim hadir untuk mendengarkan sambutan Jokowi dan ceramah Habib Lutfi bin Yahya. Non Muslim yang hadir tidak merasa takut apalagi risih, sebagaimana kita ketahui, Jokowi dan Habib Lutfi sama-sama orang NU. Sejak dulu, dakwah orang NU tidak pernah memukul, mencaci, memfitnah, menghasut, membunuh, apalagi untuk menggulingkan negara. NU memegang prinsip jika berdakwah dengan bahasa yang alus, sopan, penuh kedamaian, dan setia kepada NKRI. Hal ini tertuang dalam slogan Islam Nusantara, Islam yang merangkul bukan memukul, Islam yang lembut, dan Islam yang santun.

Dengan simbol persatuan ini, diharapkan Indonesia mampu menjadi negara besar, tidak mudah dihasut untuk melakukan revolusi, karena mendirikan dan memerdekakan bangsa ini itu sulit, sudah banyak nyawa yang melayang, sudah habis darah yang dikeluarkan, jangan sampai Indonesia terpecah ke dalam isu sektarian. Habib Lutfi selalu berpesan bahwa NKRI harga mati, membela bangsa dan negara hukumnya wajib, mempertahankan negara dari paham terorisme dan radikalisme hukumnya wajib, Indonesia adalah negara Pancasila, apapun agama dan sukunya berhak di Indonesia tanpa ada status pembeda.




loading...

0 Response to "Jokowi – Habib Lutfi bin Yahya, Simbol Persatuan Ulama dan Pemerintah"

Posting Komentar